Langsung ke konten utama

6 Hal tentang Dajjal Ini Disebutkan Langsung oleh Nabi

nikmat yang sering dilupakan

KALI ini, mungkin di antara kita sudah mulai was-was. Mengapa? Sebab, tanda demi tanda mengenai akhir zaman sudah mulai terlihat. Tapi, ada beberapa lainnya yang juga belum terungkap. Salah satu di antaranya adalah kedatangan Dajjal.
Ya, Dajjal ini merupakan salah satu makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang cukup ditakuti. Mengapa? Sebab, kehadiran Dajjal hanya akan merusak keimanan seseorang saja. Untuk itu, mengenal Dajjal menjadi hal yang begitu penting bagi kita. Tapi, darimana kita bisa mengetahuinya? Tiada lain dari Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ telah memberikan beberapa keterangan mengenai Dajjal. Sebagaimana dilansir dari ummi-online.com bahwa ada beberapa hadis mengenai Dajjal. Apa sajakah itu?
1. Fitnah Dajjal merupakan Fitnah Paling Besar Sepanjang Sejarah
“Tidak ada satu pun makhluk sejak Adam diciptakan hingga terjadinya kiamat yang fitnahnya (cobaannya) lebih besar dari Dajjal,” (HR. Muslim no. 2946). An Nawawi Rahimahullah menerangkan, “Yang dimaksud di sini adalah tidak ada fitnah dan masalah yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.”
2. Dajjal Memiliki Ciri Sebelah Matanya Buta
“Aku akan menceritakannya kepada kalian dan tidak ada seorang Nabi pun melainkan telah menceritakan tentang Dajjal kepada kaumnya. Sungguh Nabi Nuh ‘Alaihis Salam telah mengingatkan kaumnya. Akan tetapi aku katakan kepada kalian tentangnya yang tidak pernah dikatakan oleh seorang Nabi pun kepada kaumnya, yaitu Dajjal itu buta sebelah matanya sedangkan Allah sama sekali tidaklah buta,” (HR. Bukhari no. 3337 dan Muslim no. 169).
3. Di Antara Kedua Mata Dajjal Terdapat Tulisan “Kaafir”
“Tidaklah seorang Nabi pun diutus selain telah memperingatkan kaumnya terhadap yang buta sebelah lagi pendusta. Ketahuilah bahwasanya Dajjal itu buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidak buta sebelah. Tertulis di antara kedua matanya ‘Kaafir’,” (HR. Bukhari no. 7131).
4. Kemunculan Dajjal Bisa Dirasakan pada Tahun-tahun Sebelumnya
Nabi ﷺ bersabda, “Tiga tahun sebelum keluarnya Ad-Dajjal, langit akan menahan sepertiga dari air hujannya, dan bumi menahan sepertiga dari tumbuh-tumbuhannya. Pada tahun yang kedua, langit akan menahan dua pertiga dari air hujannya dan bumi akan menahan dua pertiga dari tumbuh-tumbuhannya. Pada tahun yang ketiga langit akan menahan air hujan semuanya dan bumi juga akan menahan tumbuh-tumbuhan semuanya,” (HR. Ahmad – dengan sanad laa ba’sa bihi).
5. Dajjal Tidak akan Bisa Masuk Madinah dan Mekkah
Dari Anas, katanya, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Tiada suatu negeri pun melainkan akan diinjak oleh Dajjal, kecuali hanya Makkah dan Madinah yang tidak. Tiada suatu lorong pun dari lorong-lorong Makkah dan Madinah itu, melainkan di situ ada para malaikat yang berbaris rapat untuk melindunginya. Kemudian Dajjal itu turunlah di suatu tanah yang berpasir -di luar Madinah- lalu kota Madinah bergoncanglah sebanyak tiga goncangan dan dari goncangan-goncangan itu Allah akan mengeluarkan akan setiap orang kafir dan munafik,” (Riwayat Muslim).
6. Dajjal Membawa Air dan aApi yang Diumpakan Sebagai Surga dan Neraka. Apa yang Kita Lihat Sebagai Air Sebenarnya Berarti Api. Begitu pun Sebaliknya.
Dari Rib’iy bin Hirasy, katanya, ia berangkat dengan Abu Mas’ud al-Anshari ke tempat Hudzaifah al-Yaman, lalu Abu Mas’ud berkata kepadanya, “Beritahukanlah kepadaku apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah ﷺ perihal Dajjal.” Hudzaifah lalu berkata, “Nabi ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya Dajjal itu keluar dan sesungguhnya beserta Dajjal itu ada air dan api. Adapun yang dilihat oleh para manusia sebagai air, maka sebenarnya itu adalah api yang membakar. Sedang apa yang dilihat oleh para manusia sebagai api, maka sebenarnya itu adalah air yang dingin dan tawar. Maka, barangsiapa yang menemui Dajjal di antara engkau semua, hendaklah masuk dalam benda yang dilihatnya sebagai api, karena sesungguhnya ini adalah air tawar dan nyaman sekali.” Setelah itu Abu Mas’ud berkata, “Saya pun benar-benar pernah mendengar yang seperti itu,” (Muttafaq ‘alaih). []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Akhir Zaman, Ketiga Hal Ini Semakin Langka

Zaman semakin maju bila ditinjau dari perkembangan teknologi, namun terjadi degradasi moral yang luar biasa dimasyarakat kita. Setiap hari kita disuguhi banyak kejadian yang kurang terpuji di masyarakat kita, mulai anak berani membunuh orang tuanya, atau perzinaan yang merajalela yang sengaja direkam oleh pelakunya sendiri kemudian menyebar ke media. Kejadian diatas merupakan gambaran realita saat ini yang perlu penanganan sejak dini. Menyikapi kejadian-kejadian ini, Ibnu Al-Mulaqqin dalam  Tabaqat al-Aulia  mengutip perkataan Dzunnun al-Misri (wafat pada tahun 246 H): ثلاثة ﻣﻮﺟﻮﺩﺓ، ﻭﺛﻼثة ﻣﻔﻘﻮﺩﺓ: اﻟﻌﻠﻢ ﻣﻮﺟﻮﺩ، ﻭاﻟﻌﻤﻞ ﺑﻪ ﻣﻔﻘﻮﺩ؛ ﻭاﻟﻌﻤﻞ ﻣﻮﺟﻮﺩ، ﻭاﻻﺧﻼﺹ ﻓﻴﻪ ﻣﻔﻘﻮﺩ؛ ﻭاﻟﺤﺐ ﻣﻮﺟﻮﺩ، ﻭاﻟﺼﺪﻕ ﻓﻴﻪ ﻣﻔﻘﻮﺩ Artinya: “Tiga hal ini ada wujudnya, namun ada tiga hal lain yang tak ada: ilmu sudah ada, namun sedikit yang mengamalkannya. Bila ada yang mengamalkan ilmunya namun sedikit keikhlasannya. Banyak orang yang mengaku cinta, tapi tak sesuai kenyataannya.” Dari penjelasan diatas dapat...

Pesan Nabi Ketika Tiba Kemunculan Dabbah

BINATANG melata bernama Dabbah sering dikatakan Rasulullah SAW sebagai salah satu tanda dekatnya kiamat. Bahkan Allah SWT dalam dalilnya juga menjelaskan tentang binatang ini. Hal ini tertera dalam Quran Surat An-Naml: 82 yang artinya sebagai berikut. “Apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan seekor dabbah (binatang) dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami,” (QS. An-Naml: 82). BACA JUGA:  Apa itu Dajjal, Dabbah, Ya’juj dan Ma’juj? Rasulullah SAW juga bersabda tentang Dabbah ini dan menjadi salah satu pengingat Umat Islam untuk selalu bertaubat. Dalam hadist Riwayat Muslim, Rasul menyebut tiga perkara yang jika ketiganya keluar maka semua taubat dan amal tiada gunanya. Ketiganya adalah terbitnya matahari dari arah barat, Dajjal dan Dabbah. “Ada tiga perkara yang jika keluar maka tidak akan berguna lagi keimanan orang yang belum beriman sebelumnya; atau belum mengusahakan kebaikan ya...

Jika Rasa Malu Telah Tercerabut, Tunggulah Kebinasaan

Oleh: Muntarsih Zakiyya Sakhie “MALU adalah sebagian dari iman.” (HR Bukhari dan Muslim) Rasa malu merupakan isyarat bahwa seseorang masih memiliki iman. Setiap orang memiliki kadar malu yang berbeda-beda. Jika malu sudah sirna dalam diri seseorang maka diibaratkan sifat kemanusiaannya juga telah terkubur. Semakin teguh iman seseorang semakin kuat pula rasa malunya, sehingga tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak keimanannya. Begitu pula sebaliknya orang yang tidak memiliki rasa malu bukan berarti sedang memiliki tingkat ke-pede-an yang tinggi, melainkan telah rapuh atau bahkan iman di dadanya telah lenyap. Bilamana sering kita dapati pelaku-pelaku zina yang dengan tanpa malu-malu mengatakan bahwa ia telah serumah dengan tanpa ada ikatan pernikahan. Banyak pula pelaku-pelaku maksiat lain yang dengan terang-terangan menunjukkan perbuatan maksiatnya bahkan yang lebih memprihatinkan mereka merasa bangga ketika dirinya melakukan hal itu karena explorasi seni, tuntu...